Antara Cinta Rasul dan Maulid Nabi

“Dan sekiranya peringatan maulid merupakan bentuk syukur kepada Allah tentu generasi sahabat, tabi’in dan atbaut tabi’ien serta para imam mazhab yang empat tidak ketinggalan untuk melakukan peringatan tersebut, sebab mereka adalah orang-orang yang sangat pandai bersyukur pada Allah dan sangat cinta pada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dan sangat antusias melakukan berbagai kebaikan”

Cinta terhadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam merupakan salah satu syarat beriman kepadanya, bahkan kecintaan kepada beliau harus melebihi segala kecintaan pada makhluk lainnya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidak akan beriman sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya bahkan seluruh manusia”([i]).

Ketika Umar bin Khattab menggambarkan kecintaannya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan menempatkan posisi cintanya kepada beliau di bawah kecintaannya terhadap dirinya sendiri, Rasulullah menafikan kesempurnaan imannya hingga dia menjadikan cintanya kepada beliau di atas segala-galanya

Setiap orang berhak untuk mengklaim dirinya sebagai pencinta Nabi, namun klaim tersebut tidak akan bermanfaat jika tidak dibuktikan dengan ittiba’ (mengikuti), taat dan berpegang teguh pada petunjuknya. Klaim cinta kepada Nabi tidak dapat diterima dengan sekedar memperingati hari kelahirannya seperti yang banyak dipraktekkan oleh sebahagian kaum muslimin di berbagai tempat di tanah air dan dunia islam lainnya.

Dalam sejarahpun, motivasi orang-orang yang mula-mula melakukan peringatan maulid nabi, bukan karena rasa cinta kepada beliau tetapi untuk tujuan politis, dengan menarik simpati masyarakat yang mayoritasnya berada dalam kondisi ekonomi yang sangat terpuruk untuk mendukung kekuasaannya dan masuk ke dalam mazhab bathiniyahnya yang sangat menyimpang dari aqidah bahkan bertentangan dengan Islam.

Pelopor pertama peringatan maulid nabi adalah Bani Ubaid al-Qaddaah atau yang lebih dikenal dengan al-Fathimiyyun atau bani Fathimiyyah pada pertengahan abad keempat hijriyah, setelah berhasil memindahkan dinasti Fathimiyah dari Maroko ke Mesir pada tahun 362 H.

Pakar sejarah yang bernama Al Maqrizy menjelaskan bahwa begitu banyak perayaan yang dilakukan oleh Fatimiyyun dalam setahun. Beliau menyebutkan kurang lebih 25 perayaan yang rutin dilakukan setiap tahun dalam masa kekuasaannya, termasuk di antaranya adalah peringatan maulid Nabi. Tidak hanya perayaan-perayaan Islam tetapi lebih parah lagi, mereka juga mengadakan peringatan hari raya orang-orang Majusi dan Nashrani yaitu hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), dan hari Khomisul ‘Adas (perayaan tiga hari sebelum Paskah).

Ini pertanda bahwa mereka melakukan perayaan-perayaan maulid bukan atas dasar cinta tetapi hanya untuk menarik banyak massa supaya mengikuti madzhab mereka([ii]).

Kenyataan sejarah peringatan maulid yang tidak ditemukan pada masa Nabi dan masa tiga generasi yang disebut oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai generasi terbaik umat ini, menyebabkan banyak di antara ulama yang mengingkarinya dan memasukkannya ke dalam bid’ah dan dihukuminya sebagai perbuatan haram. Poros ini diwakili antara lain oleh; Syekh Tajuddin al-Faakihaaniy – ulama besar berhaluan Malikiyah-, Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, Muhammad Bakhit al-Muthi’i -mufti Mesir-, Muhammad bin Ibrahim -mufti Arab Saudi-, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz -mufti Arab Saudi- dan ulama lainnya.

Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa di antara ulama ada yang menganggapnya sebagai bid’ah hasanah, inovasi yang baik, selama tidak dibarengi dengan kemungkaran. Pendapat ini diwakili antara lain oleh Ibnu Hajar Al-Atsqolani dan As-Suyuti. Keduanya mengatakan bahwa status hukum maulid Nabi adalah bid’ah mahmudah. Yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, tetapi keberadaannya membawa maslahat walaupun juga tidak lepas dari berbagai mudharat.

Keabsahan peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam bagi mereka disandarkan pada dalil umum yang tidak berhubungan langsung dengan titik permasalahan, sedangkan para ulama yang menentangnya membangun argumentasinya melalui pendekatan normatif tekstual yang tidak ditemukan baik secara tersurat maupun secara tersirat dalam Al-Quran dan juga Al-Hadits, dan diperkuat dengan kaedah umum dalam ibadah yang menuntut adanya dalil spesifik yang menunjang disyari’atkan suatu ibadah.

Beberapa hujjah orang yang membolehkan peringatan maulid

Para pendukung maulid berusaha mencari dalil untuk meligitimasi bolehnya peringatan maulid tersebut, Antara lain:

Pertama: Sikap Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ketika mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas keselamatan Nabi Musa Shalallahu ‘alaihi wasallam dari kejaran Fir’aun dan seruan beliau untuk berpuasa pada hari tersebut. Peringatan maulid Nabi, menurut Ibn Hajar dan As-Suyuti merupakan ungkapan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad ke muka bumi([iii]).

Hujjah ini ditolak oleh ulama lainnya dan dianggapnya sebagai alasan yang dipaksakan (takalluf) mengingat bahwa dasar suatu ibadah adalah dalil syara’ dan ittiba’, bukan pada logika, analogi dan istihsan. Puasa asyura termasuk sunnah yang telah dipraktekan dan diserukan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam sedangkan peringatan maulid tidak pernah dilakukan apalagi diserukan oleh Rasulullah bahkan sebaliknya beliau telah mewanti-wanti ummatnya dari kreasi-kreasi bid’ah, seperti dalam sabdanya:

( إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ )

“Hindarilah amalan yang tidak aku contohkan (bid’ah), karena setiap bid’ah menyesatkan”([iv]).

Benar bahwa kita dituntut untuk senantiasa mensyukuri ni’mat Allah, dan ni’mat yang terbesar tercurah pada ummat ini saat diutusnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, bukan saat dilahirkannya, karenanya al-qur’an menyebut bi’tsahnya (pengutusannya) sebagai ni’mat.

{ لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْ أَنْفُسِهِمْ }

“Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang beriman ketika Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri” (QS.Ali Imran:164).

Dan tidak menyinggung kelahirannya dan meyebutnya sebagai ni’mat, seandainya peringatan tersebut dibolehkan seharusnya yang diperingati adalah hari dibangkitkannya menjadi nabi, bukan hari kelahirannya. Lagi pula status Rasulullah yang mensyariatkan puasa asyura’ berbeda dengan status umatnya, sebab beliau berstatus sebagai musyarri’ (pembuat syariat) sedangkan umatnya hanya muttabi’ (pengikut) sehingga tidak dapat disamakan dan dianalogikan dengan beliau([v]).

Dan sekiranya peringatan maulid merupakan bentuk syukur kepada Allah tentu generasi sahabat, tabi’in dan atbaut tabi’ien serta para imam mazhab yang empat tidak ketinggalan untuk melakukan peringatan tersebut, sebab mereka adalah orang-orang yang sangat pandai bersyukur pada Allah dan sangat cinta pada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dan sangat antusias melakukan berbagai kebaikan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa peringatan maulid yang dianggap oleh sebagian umat ini sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah, cinta kepada Nabi bukanlah kebaikan dan amal shaleh sebab

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْه

ِ

“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”

Selain itu, patut dipertanyakan pula; mengapa ungkapan rasa syukur, penghormatan dan pengagungan pada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam hanya sekali dalam setahun, hanya pada 12 Rabi’ul Awwal ?, Bukankah bersyukur kepada Allah, mengagungkan dan mencintai Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dituntut setiap saat dengan mentaati dan selalu ittiba’ pada sunnahnya ?.

Kedua: Nabi memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa

Sebagian beralasan dengan puasa seninnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang merupakan hari kelahirannya. karena ketika beliau r ditanya mengenai puasa pada hari Senin, beliau pun menjawab:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيه

ِ

“Hari tersebut adalah hari kelahiranku, hari aku diangkat sebagai Rasul atau pertama kali aku menerima wahyu”([vi]).

Ini menunjukkan bolehnya memperingati hari kelahirannya. Alasan ini juga tidak dapat diterima, karena Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melaksanakan puasa pada tanggal yang diklaim sebagai kelahirannya yaitu tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Yang beliau lakukan adalah puasa pada hari Senin bukan pada 12 Rabiul Awwal !. Seharusnya kalau ingin mengenang hari kelahiran Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan dalil di atas, maka perayaan maulid harus setiap pekan bukan hanya sekali setiap tahun. Selain itu, Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam juga tidak berpuasa hanya pada hari Senin saja setiap pekan tetapi juga berpuasa pada hari Kamis dengan alasan bahwa: “keseluruhan amalan diperhadapkan kepada Allah pada hari senin dan kamis sehingga aku senang amalanku diperhadapkan kepada Allah sedang aku dalam keadaan berpuasa”([vii]). Sehingga berdalih dengan puasa senin tanpa hari kamis termasuk takalluf dan dibuat-buat. Dan kalau alasan tersebut dapat diterima seharusnya peringatannya dilakukan dalam bentuk puasa bukan dalam bentuk berfoya-foya, dan makan-makan([viii]).

Ketiga: Peringatan Maulid Nabi dianggap sebagai Bid’ah Hasanah (Bid’ah yang baik). Anggapan ini lahir dari klasifikasi sebahagian ulama terhadap bid’ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyi’ah (jelek) atau dholalah (sesat).

Alasan ini dibantah oleh sebahagian ulama bahwa peringatan maulid Nabi tidak dapat diterima sebagai bid’ah hasanah, karena dalam hadits-hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak dikenal sama sekali adanya bid’ah hasanah. Bahkan yang dikatakan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dan diyakini oleh sahabat adalah setiap bid’ah sesat. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ

وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat”([ix]).

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍضَلاَلَةٌٌ

“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat”([x]).

Karenanya Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menyatakan:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَة

ً

“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” ([xi])

Adapun perkataan Umar bin Khaththab terkait dengan penunjukan beliau seorang imam untuk memimpin shalat tarawih secara berjama’ah: (نعمت البدعة, هذه ) “sebaik-baik bid’ah adalah ini” yang mengindikasikan adanya bid’ah hasanah (yang baik), maka perlu diketahui bahwa para sahabat tidak mungkin melakukan bid’ah dan menentang sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam:

( إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلّ بِدْعَةضَلاَلَةٌ)

Hindarilah amalan yang tidak aku contohkan (bid’ah), karena setiap bid’ah menyesatkan”.

Adapun yang dimaksudkan oleh Umar dalam perkataan tersebut adalah bid’ah secara bahasa Arab yang berarti sesuatu yang baru, bukan bid’ah secara istilah, sebab beliau hanya menghidupkan kembali shalat tarawih secara berjama’ah yang telah dilakukan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersama beberapa sahabat pada awal disyariatkannya, akan tetapi beliau khawatir bertarawih secara berjama’ah tersebut diwajibkan oleh Allah dalam masa tasyri’, sehingga beliau meninggalkannya. Akan tetapi setelah Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam wafat illat (sebab) yang dikhawatirkan oleh beliau telah tiada, sehingga Umar menghidupkan kembali sunnah tersebut dan menyebutnya sebagai bid’ah secara bahasa bukan secara syar’i. Hal ini sangat berbeda dengan peringatan maulid, karena ia tidak pernah dirayakan oleh Nabi, begitu pula para sahabat, tabi’in, dan para imam madzhab, Sehingga peringatan maulid tidak dapat disebut sebagai bid’ah hasanah. Selain itu, perbuatan Umar sebagai salah seorang khulafaaur Raasyidein juga berstatus sebagai sunnah Nabi secara tidak langsung, karena beliau memerintahkan kepada umatnya untuk berpegang teguh pada sunnahnya dan sunnah khulafaaur Rasyidien dalam sabdanya: “Berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah khulafaaur raasyidien yang senantiasa mendapatkan petunjuk”([xii]).

Keempat: Peringatan Maulid merupakan salah satu sarana untuk lebih mengenal sosok Rasulullah.

Sebagian orang menganggap peringatan maulid sebagai salah satu sarana untuk lebih mengenal sosok Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang dituntut dari setiap muslim.

Tidak ada perselisihan dikalangan ulama tentang pentingnya mengenal sosok Rasulullah, hanya saja sebagian diantara mereka tidak menerima suatu bid’ah dipoles menjadi sarana kebaikan karena tujuan yang baik tidak dapat dijadikan alasan untuk menghalalkan segala cara (الغاية لا تبرر الوسيلة). Lagi pula mengenal sosok beliau tidaklah pantas dibatasi oleh bulan atau tanggal tertentu. Jika ia dibatasi oleh waktu tertentu, apalagi dengan cara tertentu pula, maka sudah masuk ke dalam lingkup bid’ah. Lebih dari itu, upaya mengenal sosok beliau lewat peringatan maulid merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang Nashrani yang merayakan kelahiran Nabi Isa ‘alaihissalam melalui natalan. Padahal Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

(مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ)

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”([xiii]).([xiv]).

Mengenal sosok Rasulullah dengan membaca dan mengkaji sirah, biografi dan sunnah beliau seharusnya dilakukan sepanjang waktu, sebagaimana para sahabat mengajarkannya kepada anak-anak mereka setiap waktu.

Hukum Peringatan Maulid Nabi

Berdasarkan pemaparan diatas bahwa peringatan maulid tidak pernah dilakukan oleh Nabi, para sahabat, tabi’in dan atbaut tabi’in serta para imam mazhab yang empat maka ia termasuk perbuatan bid’ah yang diharamkan. Hal ini jika peringatan tersebut tidak dibarengi dengan penyimpangan dan kemungkaran. Namun apabila ia disertai dengan penyimpangan dan kemungkaran seperti tawassul dan istigaatsah kepada Nabi, keyakinan hadirnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam saat dibacakan sirah maulidnya, penyebaran hadits-hadits palsu, tindakan mubazzir, musik, ikhtilath, pacaran dan semacamnya maka hukumnya lebih diharamkan lagi([xv]).

Penutup

Akhirnya, sulit dibenarkan jika peringatan Maulid Nabi dengan segala modelnya diklaim sebagai bentuk kebaikan dalam rangka mentaati dan mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Seharusnya cinta Nabi dibuktikan dengan meneladani dan mengikuti sunnah-sunnah beliau, bukan dengan menyelisihi perintah atau melakukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya.

* ( Mahasiswa Program Pascasarjana King Saud University – Riyadh )


[i] ) HR. Bukhari dan Muslim

[ii] ) Al-Bida’ Al-Hawliyah oleh Abdullah bin Abdul Aziz at-Tuwiejerie: 142-158

[iii] ) al-Haawie lil fataawa oleh Jalaluddin as-Suyuthi:1/196

[iv] ) HR. Abu Daud dan Tarmizi.

[v] ) al-Ihtifaal bil mauled bainal ittibaa’I wal ibtidaa’I oleh Muhammad bin Sa’ad bin Syuqaer (Rasaail fie hukmil ihtifaal bil mauled an-nabawie: 2/932-933)

[vi] ) (HR. Muslim: 14-Kitab Ash Shiyam, 36-Bab Anjuran Puasa Tiga Hari Setiap Bulannya)

[vii] ) HR. Ahmad (al-Musnad:5/297), dan at-Tirmizie (as-Sunan: 2/124) abwaabus saum no.742 beliau berkata: haditsun Hasan garieb min hazal wajh.

[viii] ) al-Inshaaf fiema qiela fil mauled minal guluwwi wal ijhaaf oleh Abu Bakar al-Jazairie (Rasaail fie hukmil ihtifaal bil mauled an-nabawie: 1/372)

[ix] ) HR. Muslim no. 867.

[x]) HR. Ath-Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770, Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih.

[xi] ) Lihat al-Ibanah al-Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah.

[xii] ) ar-Raddul Qawie ‘alar Rifaa’I wal Majhuul wabni ‘Alawie wa Bayaanu Akhtaaihim fiel maulidin nabawie oleh Hamuud bin Abdullah at-tuwiejerie (Rasaail fie hukmil ihtifaal bil mauled an-nabawie: 1/111-113)

[xiii] ) HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus.

[xiv] ) al-Ihtifaal bil mauled bainal ittibaa’I wal ibtidaa’I oleh Muhammad bin Sa’ad bin Syuqaer (Rasaail fie hukmil ihtifaal bil mauled an-nabawie: 2/919)

[xv] ) al-Maurid fie amalil mauled Oleh al-Imam Abu Hafsh Tajuddin al-Faakihaanie (Rasaail fie hukmil ihtifaal bil mauled an-nabawie: 1/8-10)

Sumber : http://www.islam-indo.org/kajian/aqidah-islam/35-aqidah-islam/207-antara-cinta-rasul-dan-maulid-nabi.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: